Uniknya Cara Mendidik Anak Ala Keluarga Eropa

www.thehappydept.com - cara mendidik anak ala keluarga eropa

Setiap budaya pasti memiliki cara dan sistemnya sendiri dalam cara mendidik anak. Meski memiliki tujuan yang sama, yakni demi kebaikan anak—tidak dapat dipungkiri: setiap daerah pasti memiliki caranya uniknya masing-masing. Sebagai contoh, jika negara-negara Timur cenderung mendidik anak dengan “proteksi”, pendampingan, serta hukuman; pola pengasuhan anak di negara Barat justru sebaliknya: dengan kebebasan dan kemandirian. serta menghindari hukuman semaksimal mungkin. Lantas, bagaimana cara mendidik anak yang tepat menurut keluarga Eropa? Berikut adalah empat cara unik yang bisa Anda tiru!

1. Metode “Time Out” dan “Time Limit”

Bagi orang bule atau orang eropa, kekerasan pada anak sangatlah dihindari. Maka dari itu ketika anak bandel, orang tua menggunakan cara lain untuk memberi efek jera pada anak. Salah satu metodenya adalah “Time Out” dan “Time Limit”. Misalkan mereka harus berhenti bermain, atau mereka harus berhenti berbuat nakal dalam hitungan waktu tertentu. Hal ini memang tidak mudah, karena anak kecil belum paham tentang batasan-batasan ini. Tapi yang paling penting, waktu si anak menangis, orangtua jangan sekali- sekali merasa kasihan, dan langsung menuruti kemauan si anak! Orangtua arus menanamkan didikan “Time Out” dan “Time Limit” secara tegas.

2. Pisah Kamar

Orang disana juga memilih pisah kamar dengan anaknya walaupun umur mereka baru 3-4 bulan. Menurut mereka, anak harus dididik semenjak masih bayi. Jika bayi tidak menangis lebih dari 45 menit, maka tidak akan ada masalah. Waktu
malam hari, biasanya bayi akan menangis selama 15-20 menit, jika tidak ada yang datang, dia akan lelah dan berhenti menangis sendiri. Ini akan mendidik bayi bahwa dia tidak akan mendapat makanan saat mala. Jadi waktu diberi minum susu, harus minum yang banyak.

Baca juga :  Apakah Anak Anda Sudah Aman Berada di Rumah?

3. Makan Sendiri Tanpa Disuapi

Ada masalah anak- anak yang menolak makanan. Ibu-ibu suka pusing yah soal hal ini? Biasanya ibu- ibu disana akan
membiarkan anaknya makan sendiri, tidak akan memaksa anaknya makan dengan cara menyuapi dia. Jika anak- anak tidak cukup makan, pasti nantinya akan lapar. Apabila si anak ribut minta makanan, orangtua menolak memberi makanannya. Dengan cara ini, si anak bisa belajar, kalau makan itu ada waktunya, dan lamakelamaan dia akan terdidik.

4. “Melepas” Si Anak

Ini artinya, Anda membiarkan si anak bepergian sendiri. Tentunya, masih dalam pengawasan, ya. Di Jerman misalnya, mayoritas anak-anak sekolah akan berangkat ke sekolah tanpa ditemani orang tua. Mereka sengaja dibiarkan naik subway atau berjalan kaki seorang diri. Adapun tujuannya: untuk memberikan si anak kebebasan sedari dini. Dengan begitu, diharapkan dia akan tumbuh menjadi orang yang mandiri serta “bebas” menentukan pilihan hidupnya.

5. Disiplin Tinggi

Mengajari si anak disiplin tidak selalu dengan kasus besar; melainkan dengan cara sederhana, seperti mengantre atau tidak terlambat daang ke sekolah. Nah, disiplin ini sendiri timbul akibat kesepakatan dan jadwal yang dibuat serta disetujui oleh kedua belah pihak, misalnya anak dan orang tua.
Saat si anak memperoleh keberhasilan karena mengikuti aturan, dia tentu akan senang sebab dia merasa “dilibatkan” sedari dini. Sebaliknya, jika gagal, setidaknya dia sudah belajar sesuatu terkait ketidakdisiplinannya atau mungkin bentuk “kesepakatan” yang belum benar. Hasilnya, sama-sama positif, bukan?

6. Jangan Memaksa

Di keluarga-keluarga Eropa, berlaku satu aturan: jangan memaksa. Pasalnya, menurut mereka, anak-anak tidak boleh dipaksa, seperti halnya dipaksa belajar membaca atau justru bersekolah di usia yang terlalu dini. Bagaimanapun, sudah sifat alami anak-anak untuk bermain dan bersosialisasi. Hal yang sifatnya akademis, tidak boleh didorong secara berlebihan.
Hal yang sama juga berlaku dalam aspek potensi diri. Jika di Indonesia, para orang tua sibuk menggali informasi soal jurusan dan perguruan tinggi favorit, di Eropa: anak-anak akan dibiarkan “menumbuhkan” potensi dan cita-citanya sejak kecil. Tidak peduli menjadi dokter, pengacara, tukang kayu, atau pemadam kebakaran—masing-masing anak dibiarkan “menggali” bakatnya, lalu kemudian diarahkan. Orang tua tidak berperan dominan dalam menentukan masa depan si anak.

Baca juga :  Kisah Inspiratif: Cinta Seorang Ibu yang Tulus Dapat Mengubah Segalanya

7. Memuji Anak

Dalam keluarga Eropa, suara dan pendapat anak adalah nomor satu. Setiap keputusan, haruslah dibuat dengan kesepakatan antara orang tua dan anak; mulai dari keputusan untuk pindah rumah, memilih sekolah, hingga pergi liburan. Akibatnya, si anak pun tumbuh menjadi orang yang percaya diri, berani berbicara, dan mengutarakan pendapat, meski itu berbeda.

Itulah empat cara mendidik anak yang tepat a la keluarga Eropa. Adapun apa pun cara yang Anda pilih, ada baiknya untuk memikirkan ulang: apakah anak Anda merasa senang dengan cara tersebut? Pertanyaan ini begitu penting; sehingga untuk memutuskan segala sesuatu, Anda harus melibatkan dan membuat kesepakatan dengan si anak. Bagaimana dengan di Indonesia, sudahkah Anda memiliki cara mendidik anak yang tepat?

9 likes

Related Post

Leave a Reply