Bahagia itu Sederhana, Buktinya Ada dalam 5 Kisah Nyata Berikut

Bahagia itu Sederhana - www.thehappydept.com

Sering mendengar istilah bahagia itu sederhana tapi Anda tidak percaya? Bagaimana caranya agar kita bisa berbahagia? Sebenarnya mudah, kita harus bisa mengubah pemikiran kita tentang rasa bahagia. Kenyataannya, bahagia itu datang dari hal-hal sederhana, bukan dari harta benda, kekuasaan, penampilan, maupun popularitas. Inilah bukti kisah nyata bahwa bahagia itu sederhana.

1.    Peduli pada Orang Lain

Banyak kisah nyata tentang bagaimana kita menganggap sepele apa yang telah kita miliki, padahal di mata orang lain hal sepele bisa menjadi sangat berarti? Pernahkah kamu mengalami hal-hal saat kamu memberi sesuatu yang kamu anggap tidak berharga, namun memberikan secercah senyuman bagi orang lain?
Memberikan baju bekasmu kepada anak yatim piatu atau menyumbangkan buku-buku bekas ke taman bacaan dekat rumah. Semakin banyak kamu peduli pada orang lain, kamupun akan merasa bahagia karena bisa berbagi dengan sesama, meskipun yang kaulakukan hanyalah hal sepele bagimu.

2.    Bahagia Bisa Berbuat untuk Orang Banyak

Dalam keterbatasan disebabkan usia yang sudah lanjut, nenek tua – yang pekerjaan sehari-harinya membersihkan halaman sebuah masjid itu – terlihat tidak kenal lelah. Dengan tekun, dikumpulkannya satu per satu sampah daun-daun kering yang tiada hentinya terus berguguran.
Mengapa nenek renta itu, masih mau bersusah-payah mengeluarkan tenaga untuk mengumpulkan daun-daun kering setiap hari? Jawabnya, karena dia merasa bahagia, masih bisa berbuat sesuatu bagi orang banyak. Meskipun hanya membersihkan halaman sebuah masjid. Bahagia itu sederhana.

3.    Teman, Kebebasan, dan Alam Bisa Lebih Membahagiakan

Ada seorang anak yang terlahir dari keluarga kaya, namun dia tidak pernah merasakan kebahagiaan. Bagai burung dalam sangkar emas, begitulah perumpamaannya.
Suatu hari ayahnya membawanya berjalan-jalan ke sebuah kampung di pedesaan, anak itu dimintanya untuk menyampaikan pendapatnya tentang kehidupan di desa tersebut. Dia menjawab bahwa mereka, anak-anak desa itu lebih bahagia daripada dirinya.
Menurutnya anak-anak desa itu memiliki banyak binatang peliharaan seperti sapi dan kuda, untuk membantu membajak sawah dan mencari nafkah. Sedangkan dirinya hanya memiliki seekor anjing. Di desa, ada air sungai yang mengalir jernih, sementara di rumah hanya ada kolam renang. Juga anak-anak desa itu pasti lebih berbahagia dibanding dirinya karena mereka bisa bermain bersama.

Baca juga :  Apa yang Bisa Kita Petik dari Kisah Marshanda dan Ayah Pengemis?

4.    Mensyukuri Apa yang Kita Miliki

Ada sebuah kisah seorang guru di sebuah Sekolah Dasar, yang menemukan secarik surat seorang anak didiknya, yang ditujukan kepada orang tuanya yang telah berpisah. Anak itu menulis betapa bahagianya, seandainya dia memiliki kesempatan bisa tumbuh bersama kedua orangtuanya, seperti anak-anak lainnya.
Dia berusaha tabah meskipun tidak bisa dekat dengan kedua orangtuanya. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa memilih orangtuanya saat lahir ke dunia. Oleh karenanya dia berusaha menyayangi kedua orangtuanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Baginya bahagia itu sederhana, bisa dekat dengan orangtuanya serta membahagiakan mereka.

5.    Bahagia dengan Menolong Orang Lain

Kisah seorang kakek tua yang suka mengendarai sepeda, berkeliling kota hanya untuk menolong mereka yang membutuhkan bantuan. Dia akan menolong siapa saja yang mengalami kesulitan. Ada seorang ibu yang jatuh dengan barang belanjaannya, ada anak-anak yang kesulitan mengerjakan PR mereka, dan masih banyak lagi.
Kakek itu sudah tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, oleh karenanya dia tidak memiliki tujuan hidup yang khusus lagi. Meski hidup sendirian, dia masih bisa merasakan bahagia, karena bisa berbagi dengan orang lain serta membuat hidupnya menjadi lebih bermakna. Bahagia itu sederhana bukan?

Semoga kisah-kisah diatas dapat memberi Anda lebih banyak inspirasi untk hidup bahagia.

3 likes

Related Post

Leave a Reply