Apa yang Bisa Kita Petik dari Kisah Marshanda dan Ayah Pengemis?

Ayah Marshanda Menjadi Pengemis

Happyzen pasti tidak pernah menyangka bagaimana bisa ayah seorang artis ternama seperti Marshanda ternyata menjadi seorang pengemis demi menyambung hidupnya.

Banyak pula netizen yang mengkritik Marshanda karena membiarkan sang Ayah mengalami kesusahan. Padahal sebenarnya kita tidak tahu seluk beluk masalah keluarga yang dialami oleh Marshanda.

Setiap orang pasti memiliki masalah yang berbeda-beda. Sudah seharusnya kita tidak menghakimi seseorang akibat keadaan yang terlihat dari luar.

Marshanda pun sempat menuliskan sesuatu di akun instagramnya:

“semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Jangan hanya karena aturan masyarakat yang nggak tertulis mengenai apa yang wow dann apa yang patut dianggap remeh, kita jadi hidup nggak pake hati dan nggak mengenal cinta lagi” (Marshanda)

Kita harus menyadari bahwa ada banyak kekurangan yang dimiliki seseorang. Baik itu diri kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita.

Ketika kita memiliki sebuah kekurangan, misalnya keluarga yang tidak sempurna, maka jalan terbaik bukanlah dengan membenci diri sendiri dan membenci keluarga yang kita miliki. Segala kekurangan dapat menjadi sebuah pembelajaran dimana kita bisa mengambil sisi positifnya.

Kali ini The Happy Dept akan berbagi cara menerima diri sendiri.

Banyak orang menyebut, menerima diri sendiri menjadi salah satu kunci kebahagiaan dan kesuksesan. Cukup sederhana memang, tapi dalam praktiknya hal ini tak mudah dilakukan.

Lantas bagaimana kita bisa menerima diri sendiri? Psikoterapis Julia Adler, dari klinik kesejahteraan Anawa yang berbasis di London, Inggris menawarkan nasihat sederhana tentang  bagaimana bisa menerima diri sendiri. Berikut ulasannya:

1. Buat daftar penilaian negatif tentang diri sendiri dan uraikan satu per satu.
Ini mungkin akan sedikit ‘merampas’ kebahagiaan Anda. Tetapi setelah Anda mengkaji setiap hal dan memutuskan untuk melepaskannya dan membiarkannya pergi ini akan membuat Anda lega. Anda dapat melakukannya lewat sebuah jurnal, tuliskan beberapa hal dalam diri Anda yang menurut Anda perlu dikasihani dan diampuni. Buat komitmen untuk mengampuni diri sendiri dan menolak untuk menilai dan menghakimi diri sendiri lagi. Seperti, “Saya melepaskan dan melepaskan semua penderitaan dan rasa bersalah yang berkaitan dengan ……. (isi kosong). Saya bersedia untuk memaafkan diriku sendiri atas apa yang terjadi. Saya melakukan yang terbaik yang saya bisa, dan sebagainya.

Baca juga :  Manfaat Berbagi Sebagai Kunci Kebahagiaan

2. Belajar memvalidasi realitas emosional Anda.
Anda tak dapat menunggu orang lain untuk  merasakan apa yang kita rasakan. Maka mulailah membuat komitmen untuk memahami apa yang terjadi secara emosional kita dan ambil tindakan yang tepat untuk mendukung diri kita sendiri. Sejauh mungkin, tahan diri untuk tidak melamun, menekan atau mati rasa emosi kita. Ini bukan tentang berdialog dengan diri sendiri tentang siapa yang benar atau salah. Ini bukan tentang mengulang drama, tetapi tentang mengakui bagaimana perasaan Anda. Ini tentang berada di sana untuk diri sendiri dan menegaskan bahwa Anda berharga dan Anda peduli pada diri sendiri.

3. Memupuk hubungan dengan kegagalan.
Menumbuhkan keberanian untuk muncul dan menjadi nyata. Banyak dari kita terjebak dalam spiral malu pada kegagalan. Mulai ini Lepaskan perasaan malu karena gagal dan tekankan bijaksana bahwa kegagalan adalah guru yang sempurna. Jangan menghabiskan waktu Anda duduk di batas dari mengambil risiko, ini akan membuat Anda merasa hidup.

4. Jangan membandingkan diri dengan orang lain.
Kita sering mengevaluasi diri atas dasar penampilan, uang, sukses. Kita semua sangat rentan terhadap kecemasan tentang bagaimana orang lain melihat dan menilai kita. Berhentilah bermain game rating! Berhenti bertanya pada diri sendiri, “bagaimana saya lakukan dibandingkan dengan orang lain?” Budaya memang mendorong kita untuk selalu membandingkan diri dengan orang lain. Tapi percayalah jika kita unik. Begitu banyak dari kita, ada suara hati yang kritis konstan yang mengingatkan pada kekurangan kami. Sebaliknya, belajar untuk menerima bahwa yang terbaik adalah cukup baik.

5. Belajar menerima ketidaksempurnaan.
Mulailah melihat bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan. Semakin kita bisa menerima itu sebagai bagian dari diri kita, maka akan lebih banyak kebebasan yang kita rasakan. Ketika kita mengakui bagian ini, ketimbang mencoba untuk menyembunyikan ketidaksempurnaan kita dari dunia, maka kita akan bebas! Anda akan bebas dari kecemasan dan tidak  banyak membuang energi untuk menutupi kekurangan yang kita rasakan.

Baca juga :  Manfaat Kopi: Kunci Hidup Sehat dan Bahagia

Happyzen dapat banyak belajar dari kisah Marshanda. Berada dalam keluarga yang mengalami banyak permasalahan bukanlah hal yang mudah. Ketika sebuah keaadaan memaksa Anda untuk menerima segala kekurangan yang ada, tetap bersikap bijak dan hindarkan diri dari pikiran negatif.

Untuk mendapatkan lebih banyak inspirasi bahagia, Anda dapat download ebook ini dengan gratis!.

sumber: suara

  like this

Related Post

Leave a Reply